Translate

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM MATA PELAJARAN PAI


 Oleh M. Hasan Suryawan
Mahasiswa Pascasarjana di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Ringkasan
Mencuatnya isu pendidikan Multikultural merupakan salah satu respond dari fenomena krisis moral yang disebebkan oleh perbedaan dan keberagaman etnis, suku, budaya, bahasa bahkan juga agama. Keberadaan pendidikan agama islam (PAI) yang dirasa kurang respond terhadap fenomena diatas menyebabkan munculnya pendidikan khusus yang membincang persoalan ini, yaitu pendidikan multikultural. Padahal jika dilihat dari kontennya, PAI khususnya pendidikan Akidah-Akhlak juga memuat konten tentang pendidikan multikultural. Dalam uraian selanjutnya, penulis akan menjelaskan konsep pendidikan multikultural secara umum dan kemudian dijabarkan pula konsep PAI khususnya pada ranah Akidah-Akhlak yang menjelaskan tentang pendidikan multikultural. Kajian kolaboratif antara PAI dan konsep pendidikan multikultural secara umum ini kemudian akan menghasilkan satu konsep yang integratif dimana peserta didik akan memahami perbedaan dan keberagaman kebudayaan mereka.

KETELADANAN SANG “AYAH” (IN MEMORIAL)

          Andrea Hirata beru-baru ini merilis novel terbarunya yang berjudul Ayah. Bagi saya, istilah Ayah merupakan istilah yang akan mengingatkan kita pada segudang cerita kehidupan, segudang makna hikmah dan segudang pelajaran serta nasehat hidup yang pernah ia ajarkan. Terkadang Ayah memberikan pelajarannya melalui kata-kata, namun yang paling banyak tentu dengan teladan. Saya pribadi memiliki segudang pelajaran dan cerita bersama seorang Ayah, bahkan diri saya hari ini tidak lebih merupakan cerminan beliau (Ayah).
          Ayah atau dalam bahasa sasak Mamik (panggilan bagi seorang Ayah yang sudah melaksanakan ibdah haji) pernah mengatakan kepada saya bahwa hidup ini adalah permainan, tapi jangan mempermainkan permainan. Kalau kamu mempermainkan permainan, maka hidupmu akan main-main. Pernyataan ini saya dengar pada saat saya masih berusia kira-kira 10 tahun. Dan itu bukan nasehat atau pernyataan beliau yang pertama kalinya, bahkan sebelum itu banyak sekali pernyataan-pernyataan serupa yang beliau ucapkan kepada anak-anaknya.

MEMBUMIKAN PENDIDIKAN BERBASIS KEBUDAYAAN (NUSANTARA) DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL



Abstract
Powerful Nation is a nation that has identity and then internalized to all kind of society activities for collective progress. A lot of phenomenon happen as a consequence of globalization at this moment that has influence almost all live edge include threaten the existence of nation culture. Culture acculturation process that very fast and strict caused losing Indonesian nation culture that actually should have been maintained by us as an ideology all at once as the nation identity. And then it is effected in personality, habit, and productivity phase Indonesian people that disposed in negative thing and left out so far if compared with the other countries. So, it will be important to build back education based on culture, start from formal institution like school until non formal institution that is environment of society, it is an urgent step to strengthen back national culture in live modernization.

TANGGAPAN AKAL TERHADAP FENOMENA ALAM

Oleh: M. Hasa Suryawan

Peradaban manusia telah berlangsung ribuan tahun lamanya, yaitu sejak nabi Adam a.s diturunkan di muka bumi ini. Penjelasan ini merujuk pada informasi yang disampaikan di dalam al Qur’an (Q.S. (2):30-39, (7):10-25, (20):116-123) tentang kejadian manusia atau turunnya nabi Adam ke Bumi. Manusia kemudian membuat sejarah panjang tentang peradabannya melalui potensi akal yang diberikan kepadanya. Mulai dari kehidupan primitif-nomaden hingga kepada kehidupan modern seperti saat ini. Peradaban itu tidaklah terjadi melainkan karna semakin faham dan tersadarnya manusia dengan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Misalnya, dulu sebelum zaman modern tiba, di Benua Eropa terjadi masa kegelapan (the dark age) dimana akal atau pikiran manusia tidak boleh melakukan pemikiran diluar apa yang telah digariskan pada Al Kitab (injil). Pada masa ini manusia tak ubahnya seperti binatang, karena akal tidak digunakan sebagaimana mestinya, padahal akal merupakan salah satu potensi terpenting setelah potensi Indra yang dimiliki manusia.

KESENJANGAN TARAF PENDIDIKAN

Salah satu damapak dari sistem perekonomian liberalisme-kapitalisme ialah terjadinya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Ini berarti bahwa orang yang kaya akan semakin kaya, sedangkan orang yang miskin akan semakin miskin. Pola ini terus melebar, ibarat dua orang yang sedang berjalan berlainan arah. Orang pertama berjalan ke arah barat dan yang satunya berjalan ke arah timur. Tentu keduanya sama-sama saling menjauh dan akan semakin terus menjauh. Inilah ibarat kesenjangan yang terjadi di alam perekonomian pada masyarakat yang menganut ideologi liberalisme.

BACA JUGA

Islam: Way Of Life

Oleh: Muh. Hasan Suryawan Saat kita mendengar kata islam, maka yang terpikirkan dalam benak kita adalah salah satu agama yang menjadi ke...