Translate

SEBUAH HARAPAN UNTUK SANG BIDADARI

Saat pertama kali aku bertemu dengan sosok bidadariku, aku ingin sekali menuliskan sesuatu. Entah aku ingin menuliskan sebuah puisi, cerpen ataupun sebuah tulisan yang eksklusif hanya membahas tentang kehadirannya saat ini. Namun at the firs sight, aku sama sekali tidak bisa menulis tentang keindahan itu. Bahkan untuk menulis satu paragraf pun aku tak sanggup rasanya. Hatiku masih membaca, siapakah sosok bidadari yang tiba-tiba datang dan membawa kejutan terindah dalam kehidupanku ini?. Ya, dia tak ubahnya seperti seorang bidadari yang Tuhan kirimkan langsung menghampiriku. Setelah sekian lama aku memutuskan untuk tidak menyayangi seorang wanita. Setelah apa yang telah wanita lakukan untukku. Baru saat inilah, prinsip itu akhirnya runtuh.

Aku pernah menyayangi seorang wanita. Kami menjalani kisah itu dengan penuh ketakutan. Walaupun begitu, kami berusaha untuk tetap bertahan. Karena bagi kami, ketakutan itu takkan pernah sanggup menandingi kekuatan cinta kami berdua. Dua tahun bersama, mungkin waktu yang tak singkat lagi bagi sebuah hubungan. Aku mungkin lelaki yang paling menyayanginya di dunia ini, tentunya setelah kasih sayang seorang Ayah untuknya. Aku selalu meraskan kekuatan cinta kami telah menyatu menjadi satu bagian yang tak terpisahkan bagai cinta seorang sufi kepada Tuhannya. Hingga kesedihan yang ia rasakan akan menjadi bagian dari kesedihanku juga. Namun akhirnya, sebuah takdir menjawab ketakutan kami selama ini. Ia seorang wanita yang memiliki darah bangsawan. Sedangkan aku, aku dilahirkan dari keluarga nan sederhana namun sarat akan kasih sayang. Kami akhirnya berpisah dengan alasan itu. Dia lebih memilih kedua orang tuanya setelah beberapa hari sebelumnya hubungan kami ini terkuak adanya. Begitu sedih perasaan yang kurasakan saat itu. Aku tahu, dia pun akan merasakan apa yang kurasakan. Kami berdua merasakan kehilangan yang begitu hebatnya. Dia telah kehilangan sosok orang yang sangat mencintainya. Aku pun merasakan kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Satu tahun ternyata tak cukup untuk kami gunakan untuk saling melupakan. Perasaan itu kemudian terus mengikuti kami hingga tahun kedua setelah perpisahan itu. Namun kami memutuskan untuk tidak membangunnya kembali, karena Tuhan telah berhasil menguatkan hati kami masing-masing. Kini, ia telah hidup damai dalam genggaman keluarga yang telah ia pilih. Dan hari ini, aku merasakan makna dari sebuah kata yang terbesit dari hati para pecinta, “aku akan bahagia, jika melihatmu bahagia, walaupun tanpa aku disisimu”.

Beranjak dari kisah yang telah lalu, Tuhan lagi-lagi mengirimkan sebuah perasaan yang kali ini ia titipkan kepada sahabat terbakikku. Dua tahun kami bersama dalam jalinan persahabatan paling indah sedunia. Dan karena alasan itu juga, aku tiba-tiba jatuh hati kepadanya. Namun ia sulit untuk menerimaku sebagai sosok lain. Karena ia lebih mencintaiku dalam balutan persahabatan. Kami pernah kedinginan ditengah alam yang begitu mencekam, kami pernah kelaparan ditengah hutan yang tak berujung, kami pernah tertawa bersama ditengah lautan biru. Kami pun pernah berjalan diatas pantai dengan butiran pasir-pasir berwarna pink, kami juga pernah bercanda, tertawa, saling membenci, kemudian kembali akur. Ia sangat takut, jika nantinya ia sampai kehilangan momen-momen persahabatan seperti itu. Dan alasan utama mengapa ia sampai tidak berani jatuh cinta lagi, adalah karena sebelum aku datang untuk mencintainya dia terlebih dahulu telah kecewa dengan beberapa cinta yang ia jalani. Sampai pada suatu hari ia berpesan,

“Biarlah hati mengalir seperti air dan udara. Air yang mengalir dari ketinggian menuju ke tempat yang lebih indah. Dan seperti udara yang berhembus dari tekanan yang tinggi menuju tekanan yang rendah..”.

Hingga aku tersadar, jika seandainya ia menjadi milikku. Aku memang akan memiliki kecntikan wajahnya, aku memang memiliki kelembutan kasih sayangnya, aku memang akan memiliki hari-hari indahnya, aku juga akan memiliki setiap rindu yang ia rasakan, tapi aku tidak akan pernah bisa memiliki hatinya. Tuhan akhirnya menyadarkan jika ini bukan cinta, tapi pelampiasan cinta terdahuluku.

Beberapa saat kemudian, aku akhirnya benar-benar merasakan kemardekaan dari kisah kelam masa laluku. Aku kembali menjadi seorang manusia tanpa beban. Sampai disuatu hari, Tuhan kembali mengutus seorang bidadariNya. Tak ada rekayasa sedikitpun dalam pertemuan kami karena semua itu terjadi begitu saja. Seperti air yang mengalir dari ketinggian atau seperti angin yang berhembuas dari tekanan yang tinggi. Aku akan mengulang kata-kataku diatas, at the first sight, aku bahkan tak bisa menulisakan sosok bidadari itu. Malam kedua, kembali aku bujuk pikiranku, kucoba bersahabat dengan inspirasi-inspirasi indah terntang dia yang berterbangan di atas pikiranku. Aku berusaha keras, namun tetap saja, bayang-bayang tentang dirinya terus bersembunyi malu. Padahal pena telah kuasiapkan untuk melukis setiap lekukan keindahan dirinya melalui rangkaian kata-kata. Di malam ketiga pun demikian, hingga aku putus asa dan tak ingin menulis kembali. Namun disanalah justru puncak inspirasiku. Bayang-bayang dirinya kembali datang, menerobos cepat hingga masuk ke dalam alam bawah sadarku. Dan akhirnya, dengan lemah gemulai, jemariku mulai menari-nari bahagia.

Aku tahu, ini terlalu dini untuk menyebutnya sebagai sebuah perasaan sayang. Apakah ini bisikan Tuhan yang menyuruhku untuk kembali belajar menyangi seseorang dengan lebih baik. Apakah ini yang sebenarnya, atas segala latihan perasaan yang telah aku jalani sebelumnya. Ah, aku terlalu takut untuk jujur. Aku terlalu takut untuk menulisakan hal yang sebenarnya. Aku terlalu takut jika aku mengatakan bahwa hari ini aku merasakan dirinya sebagai sosok wanita yang berbeda dari wanita-wanita lainnya. Tuhan, aku takkan pernah berburuk sangka dengan ceritamu. Walaupun hari esok masih misteri, tapi aku tak boleh takut memberikan kasih sayang dan cintaku ini. Jika ia merasakan hal yang sama, itu akan membuat keadaan ini akan semakin baik. Jika ia sebenarnya tak membalas perasaan ini maka tak perlu ada penyesalan. Karena aku hanya kehilangan seseorang yang tidak mencintaiku, sedangkan ia akan kehilangan seseorang yang mencintainya.


Aku takakan pernah takut untuk mencoba menyanginya dan memberikan semuanya dengan tulus. Aku juga takkan pernah memaksanya untuk mau menyangiku, karena aku hanya ingin memilki hatinya, bukan untuk memiliki cantik parasnya, hari-harinya ataupun ingin memilki anggun senyuamnnya.

Oleh Hasan Suryawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACA JUGA

Islam: Way Of Life

Oleh: Muh. Hasan Suryawan Saat kita mendengar kata islam, maka yang terpikirkan dalam benak kita adalah salah satu agama yang menjadi ke...