Translate

ORANG MISKIN DILARANG SAKIT


Saat mendengar pernyataan di atas, timbul satu pertanyaan “maksudnya?” dan satu pernyataan “Kon gendeng a?!!” di benakku. Pernyataan tersebut secara tersurat memang terkesan aneh dan terdengar layaknya guyonan. Namun secara tersirat, kiranya kita dapat mengaitkannya dengan betapa sulitnya orang miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang baik. Saat demam berdarah, tipus, tbc, kanker, dan penyakit kronis lainnya tengah menggerogoti diri hingga tak lagi sanggup untuk sekedar membuka mulut, melontarkan betapa sakit ia rasakan, rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat untuk mengobati pasien justru menolaknya mentah-mentah, bahkan tak jarang mereka dibentak dan dicaci lantas diusir karena ngeyelingin mendapatkan pengobatan demi terselamatkannya nyawa. Namun sayang, semua sia-sia. Tak ada uang, pasien ditendang dan tak peduli meski harus mendarat di kamar mayat. Lengkap sudah penderitaan si miskin, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sehingga tak heran jika akhirnya mereka melarikan diri ke dukun sebagai jalan alternative.


Membincang dukun, di masa kerajaan Demak dukun adalah seseorang yang memiliki pengetahuan empiris. Ia adalah orang yang expert dalam bidangnya dan sama sekali tak berhubungan dengan hal-hal berbau mistis. Pengobatan yang mengandung unsur magis/mistis masyhur dengan sebutan Waryan atau Baryan. Pengobatan jenis ini sudah muncul sejak zaman Plato-Aristo dengan istilah Iskolapios (benar-tidaknya redaksi Iskolapios tidak tahu, hehe..). Namun seiring bergulirnya waktu, makna kata dukun kian bergeser hingga saat ini kata dukun identik dengan hal-hal beraroma mistis atau magic.

Begitulah nasib orang miskin di era yang Agus Sunyoto; pengasuh Pondok Pesantren Global Tarbiyatul Arifin menamainya mediconomic, yakni segala unsur medis telah didistribusikan sebagai komoditas. Tanpa kita sadari, orang miskin dijadikan korban pembunuhan terselubung untuk menurunkan great permasalahan kepadatan penduduk. Sedang hukum tak jua membela orang miskin. Itulah bukti riil Aristocracy of Money, di mana uang menjadi Tuhan baru.

Padahal, dalam Islam, kemiskinan adalah sebuah keharusan. Adanya si kaya dan si miskin merupakan kemutlakan tak terelakkan karena alam butuh pada keseimbangan. “Justru kalau tidak ada yang miskin itu tanda-tanda kiamat telah dekat.” Papar Romo_sapaan akrab Agus Sunyoto di Pesantren Global_ kepada para santrinya. “Air sungai dapat mengalir karena dasarnya ada yang rendah dan ada yang tinggi. Begitu pula hidup, bagai air yang mengalir, sehingga selalu mengalami dinamisasi.” Lanjutnya.

Oleh karenanya, bagi si kaya, berikan hak kaum faqir miskin dan anak yatim yang sebagiannya dititipkan pada kalian. Dan bagi si miskin, bersabarlah atas kemiskinanmu. Karena semua hanyalah satu proses untuk memaknai kehidupan dan menjadi kholifatullah fil ardh.

Artikel oleh : Tiena Siska Hardiansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACA JUGA

Islam: Way Of Life

Oleh: Muh. Hasan Suryawan Saat kita mendengar kata islam, maka yang terpikirkan dalam benak kita adalah salah satu agama yang menjadi ke...